Selasa, 24 Maret 2015

Belajar dan Pembelajaran



MAKALAH
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
PENDEKATAN CARA BELAJAR SISWA AKTIF ( CBSA )

LogoUNP1-300x300








DISUSUN OLEH :
DINI PERMATA SARI       ( 1204660 )
EMHA MARTITAH HAQ  ( 1204698 )
ERIC DORISKHA               ( 1100592 )
FATMAWATI                      ( 1204656 )


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2014





KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah BELAJAR DAN PEMBELAJARAN yang berjudul “ Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)” sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Makalah ini disusun untuk melengkapi salah satu tugas Belajar dan Pembelajaran, sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh Ibu Elise Muryanti sebagai dosen pengajar.
Ucapan Terimakasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan dan penyampaian materi dalam makalah ini. Selanjutnya penulis mengharap saran dan kritik untuk kesempurnaan makalah selanjutnya.



Padang,      Maret 2014


                 Penulis









DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii           
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A.    Latar Belakang............................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah........................................................................................ 1
C.     Tujuan ......................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 2
A.    Pengertian Pendekatan CBSA..................................................................... 2
B.     Rasionalisasi CBSA dalam Pembelajaran.................................................... 3
C.     Prinsip – prinsip CBSA................................................................................ 5
D.    Rambu – rambu Penyelenggaraan CBSA.................................................. 12
E.     Manfaat CBSA.......................................................................................... 13
F.      Penerapan CBSA....................................................................................... 13
BAB III PENUTUP............................................................................................. 16
Kesimpulan........................................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 17





                                          
 BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Penyelenggaraan pembelajaran merupakan salah satu tugas utama guru, dimana pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Untuk dapat membelajarkan siswa, salah satu cara yang dapat ditempuh  oleh guru ialah dengan menerapkan pendekatan CBSA. Pendekatan ini merupakan merupakan pendekatan pembelajaran yang tersurat dan tersirat dalam kurikulum yang berlaku.
CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari. CBSA menuntut keterlibatan mental yang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses kognitif pembelajaran akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apakah pendekatan CBSA?
2.      Apa rasionalisasi pendekatan CBSA dalam prmbelajaran?
3.      Apa prinsip CBSA?

C.      Tujuan
Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah “Belajar dan Pembelajaran” dan menjelaskan apa itu pengertian, rasional, dan prinsip – prinsip Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), serta menjelaskan tentang manfaat dan rambu- rambu dalam penyelenggaraan CBSA. Makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi pembaca dan penulis.

BAB II
PEMBAHASAN
PENDEKATAN CARA BELAJAR SISWA AKTIF ( CBSA )

A.    Pengertian Pendekatan CBSA
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan tertentu.
Menurut Nana Sujana (1988), dikatakan bahwa CBSA adalah suatu proses belajar-mengajar yang menggunakan berbagai metode yang subjek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional, sehingga subjek didik betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar.
Menurut Misbah Partika (1987), dikatakan CBSA adalah proses belajar mengajar yang menggunakan berbagai metode yang menitik beratkan kepada keaktifan yang bersifat fisik, mental, emosional maupun intelektual untuk mencapai tujuan pendidikan yang berhubungan dengan wawasan kognitif, afektif dan psikomotor secara optimal.
Bertitik tolak dari beberapa definisi tersebut di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) merupakan suatu pendekatan yang diterapkan dalam proses belajar-mengajar dengan menekankan pada keterlibatan kemampuan peserta didik, baik secara fisik, mental, intelektual maupun emosionalnya sehingga diperoleh hasil belajar yang berupa keterpaduan antar aspek kognitif, afektif dan psikomotor dalam kesatuan pribadi peserta didik yang utuh seperti yang diinginkan dalam tujuan pendidikan nasional.
Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) merupakan suatu pendekatan sebagai urutan pembelajaran yang mengarah kepada pengoptimalisasian pelibatam intelektual-emosional siswa dalam proses pembelajaran, dengan pelibatan fisik siswa apabila diperlukan. Peningkatan CBSA dari suatu proses pembelajaran berarti pula mengarahkan proses pembelajaran yang berorientasi pada siswa atau dengan kata lain menciptakan pembelajaran berdasarkan siswa (Student Based Instruction). Konsep CBSA yang dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat membantu pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar aktivitas pembelajar masih rendah dan belum terpogram. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama.
B.     Rasionalisasi CBSA dalam Pembelajaran
Rasional atau dasar pemikiran dan alasan usaha peningkatan CBSA dapat ditinjau kembali pada hakikat CBSA dan tujuan pendekatan itu sendiri. Dengan cara demikian pembelajar dapat diketahui potensi, tendensi dan terbentuknya pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimilikinya. Pada dasarnya dapat diketahui bahwa baik pembelajar. materi pelajaran, cara penyajian atau disebut juga pendekatan-pendekatan berkembang.
Gage dan Berliner secara sederhana mengungkapkan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mebuat seseorang mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang diperolehnya. Dengan demikian, dalam belajar orang tidak mungkin melimpahkan tugas-tugas belajarnya kepada orang lain. Orang belajar adalah orang yang mengalami sendiri proses belajar.
Bertolak dari pemikiran-pemikiran yang terkandung dalam konsep belajar seumur hidup dan konsep belajar serta kenyataan proses pembelajaran, maka peningkatan penerapan CBSA merupakan kebutuhan yang harus segera terpenuhi. Dengan penerapan CBSA, siswa diharapkan akan lebih mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya secara penuh. Di sisi lain, guru diharapkan bekerja secara profesional, guru dapat merekayasa sistem pembelajaran yang mereka laksanakan secara sistematis, dengan pemikiran mengapa dan bagaimana menyelenggarakan kegiatan pembelajaran aktif (Raka Joni, 1992:11). Sehingga di kemudian hari penerapan CBSA pada gilirannya akan mencetak guru-guru yang potensial dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan alam dan sosial budaya.
Pelaksanaan proses pembelajaran dititik beratkan pada keaktifan siswa belajar dan keaktifan guru menciptakan lingkungan belajar yang serasi dan menantang. Penerapan CBSA dilakukan dengan cara mengfungsionalisasikan seluruh potensi manusiawi siswa melalui penyediaan lingkungan belajar yang meliputi aspek-aspek bahan pelajaran, guru, media pembelajaran, suasana kelas dan sebagainya. Cara belajar di sesuaikan dengan minat dan pemberian kemudahan kepada siswa untuk memperoleh pemahaman, pendalaman, dan pengendapan sehingga hasil belajar berintemalisasi dengan pribadi siswa. Dalam kondisi ini semua unsur pribadi siswa aktif seperti emosi, perasaan, intelektual, pengindran, fisik dan sebagainya.
CBSA dapat berlangsung dengan efektif, bila guru melaksanakan peran dan fungsinya secara aktif dan kreatif, mendorong dan membantu serta berupaya mempenguruhi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan belajar yang telah ditentukan. Keaktifan guru dilakukan pada tahap-tahap kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pellilaian dan tindak lanjut pembelajaran.Peranan guru bukan sebagai orang yang menuangkan materi pelajaran kepada siswa, melainkan bertindak sebagai pembantu dan pelayanan bagi siswanya. Siswa aktif belajar, sedangkan guru memberikan fasilitas belajar, bantuan dan pelayanan. Beherapa kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru, ialah:
1)       Menyiapkan lembaran kerja
2)       Menyusun tugas bersama siswa;
3)       Memberikan informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan;
4)       Memberikan bantuan dan pelayanan kepada siswa apabila siswa mendapat kesulitan;
5)       Menyampaikan pertanyaan yang bersifat asuhan;
6)       Membantu mengarahkan rumusan kesimpulan umum;
7)       Memberikan bantuan dan pelayanan khusus kepada siswa yang lambat;
8)       Menyalurkan bakat dan minat siswa;
9)       Mengamati setiap aktivitas siswa.
Kegiatan-kegiatan tersebut menunjukkan, bahwa pembelajaran berdasarkan pendekatan CBSA tidak diartikan guru menjadi fasif, melainkan tetap harus aktif namun tidak bersikap mendominasi siswa dan menghambat perkembangan potensinya Guru bertindak sebagai guru inquiry, dan fasilitator.
C.    Prinsip – prinsip CBSA
Menurut Davies (dalam Sumantri dan Permana, 1998/1999) prinsip-prinsip CBSA dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, prinsip-prinsip umum yang diturunkan dari prinsip-prinsip belajar. Kedua, prinsip-prinsip khusus yang dilihat dari beberapa dimensi, yaitu : dimensi peserta didik, dimensi guru, dimensi program pembelajaran, dan dimensi situasi belajar mengajar.
1.      Prinsip-prinsip Umum
a.       Hal apa pun yang dipelajari oleh murid, maka murid harus mempelajarinya sendiri. Tidak ada orang lain yang dapat menggantikan kegiatan belajar itu unuk murid bersangkutan.
b.      Setiap murid belajar menurut tempo belajarnya sendiri. Setiap kelompok umur memiliki variasi dalam kecepatan belajar. 
c.       Setiap murid akan belajar lebih banyak, bilamana dalam setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcement). 
d.      Penguasaan secara penuh dari setiap langkah akan memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti.
e.       Apabila murid diberi tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia akan lebih termotivasi untuk belajar, dan ia akan belajar dan mengingat dengan lebih baik.

2.      Prinsip - prinsip Khusus
a.      Prinsip CBSA Dilihat dari Dimensi Peserta Didik
1)      Peserta didik harus berani mewujudkan minat, keinginan, dan dorongan yang ada pada dirinya. Hal penting yang harus mendapatkan perhatian, dalam hal ini adalah bahwa peserta didik harus betul-betul menyadari, belajar adalah tugasnya. Ia harus terlibat secara aktif, berusaha meraih keinginannya, dan melakukan kegiatan belajar untuk mewujudkan dorongan atau motifnya. 
2)      Peserta didik harus memiliki keinginan dan keberanian untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar. Dengan kata lain, keinginan dan keberanian untuk terlibat aktif harus dibangkitkan. Kehendak mereka tidak boleh terpendam, keinginannya tidak perlu tertunda, dan keinginan mereka tidak boleh menjadi kendor sebelum teraktualisasikan dalam pengalaman belajar mereka sendiri. 
3)      Peserta didik harus didorong untuk berusaha keras dan kreatif dalam mencari pemecahan masalah yang dihadapi dalam belajar. Mereka diharapkan tidak menghindari tantangan dan masalah-masalah yang dihadapi. Dengan tantangan dan masalah-masalah itu, kreativitas mereka justru harus muncul dan berkembang secara optimal. 
4)      Sifat keingintahuan yang kuat, yang secara alamiah telah ada dalam diri anak sejak kecil, tidak boleh terhambat. Peristiwa pembelajaran hendaknya memelihara kondisi belajar peserta didik untuk selalu bertanya dan berusaha mencari jawabannya secara memuaskan. Mereka menjadi aktif dalam belajar karena berbagai hal yang merangsang untuk ditanyakannya dan diberi jawababnya secara tepat.
5)      Kegiatan belajar sepatutnya menyenangkan. Siswa harus merasa lapang dan bebas dari perasaan terancam oleh perasaan stres, situasi yang mencekam dan menakutkan. Karena hanya dengan begitu mereka tidak terbelenggu untuk mengemukakan gagasan-gagasannya dalam belajar. Mereka harus terbiasa dalam keadaan merdeka, serta memiliki kebebasan yang bertanggung jawab
b.      Prinsip-prinsip CBSA dilihat dari Dimensi Guru
Menurut Ibrahim dan Karyadi (1993) prinsip-prinsip CBSA dilihat dari tingkah laku guru meliputi : 
1)      Memberikan kesempatan kepada murid untuk melakukan berbagai macam kegiatan. Hal ini dapat terjadi bila titik pusat pembelajaran diletakkan pada kegiatan murid dan bukan pada kegiatan guru. Guru diharapkan bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Pada umumnya, setiap murid lebih senang dan bergairah bila ia diminta untuk melakukan percobaan atau upaya menemukan cara memecahkan suatu masalah daripada  mendengarkan dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru.
2)      Menciptakan berbagai situasi belajar. Banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk meniptakan situasi belajar mengajar yang kondusif. Misalnya, mengatur ruangan sedemikian rupa sehinggga memberi kemungkinan kepada murid untuk melakukan diskusi kelompok, memasang hasil karya murid dan guru yang dapat digunakan sebagai sumber belajar pada dinding kelas, dan lain-lain.  Menggunakan berbagai macam metode mengajar juga akan membuat situasi pembelajaran beragam. Keragaman situasi belajar sangat diperlukan agar suasana kelas tidak membosankan.     
3)      Mendorong murid menjadi peserta aktif dalam proses belajar. Guru harus berusaha meningkatkan gairah belajar murid sehingga mereka ikut serta secara aktif dalam proses belajar – mengajar. Untuk itu perlu dikembangkan bahan kajian dan ppembelajaran yang selalu dapat menantang murid untuk menyelesaikan pekerjaannya. Hal ini mungkin terlaksana bila guru memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan murid secara edukatif dan kemampuan untuk memotivasi serta menciptakan kondisi kelas untuk itu.
4)      Mendorong murid untuk menjadi kreatif. Misalnya, guru memberikan kesempatan kepada murid untuk menyampaikan berbagai macam kemungkinan jawaban atau suatu persoalan, atau menciptakan sesuatu sesuai dengan kemampuan murid. Hal ini dapat terjadi bila guru tidak selalu terikat pada bahan kajian secara ketat.Usaha semacam ini memerlukan kemampuan guru untuk berkreasi atau untuk menciptakan sesuatu yang baru.
5)      Memberikan pelayanan terhadap perbedaan individual. Perbedaan individu dapat terlayani apabila guru memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar menurut cara dan waku yang sesuai dengan kemampuan murid. Memberikan tugas atau pertanyaan sesuai dengan kemampuan masing-masing murid merupakan salah satu contoh pelayanan terhadap perbedaan individual. Hal ini dapat terjadi apabila guru mengenal dan memahami murid-muridnya dengan segala karakteristiknya.
6)      Menggunakan berbagai sumber belajar. Selain buku pelajaran, banyak macam bahan yang dapat digunakan sebagai sumber belajar. Misalnya koran, majalah, dan lingkungan. Pemanfaatan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya sebagai sumber belajar sangat membantu murid untuk lebih cepat memahami apa yang dipelajarinya, karena semua itu dekat dengan murid.
7)      Memberi umpan balik. Guru harus selalu memberikan tanggapan terhadap setiap hasil belajar peserta didik. Umpan balik akan memiliki nilai motivasi yang baik, kalau diberikan dengan tidak menyinggung perasaan murid atau menyebabkan mereka menjadi malu. Umpan balik perlu diberikan dengan bahasa yang tepat sehingga murid dengan senang hati memperbaiki kekurangannya atau mempertahankan keunggulannya.
8)      Menilai hasil belajar murid dengan berbagai cara. Menilai hasil belajar murid dengan menggunakan tes tertulis merupakan hal yang lazim dilakukan oleh guru. Tetapi tes tertulis tidak selalu sesuai untuk menilai semua perubahan tingkah laku murid. Karena itu, dalam proses pembelajaran perlu digunakan berbagai cara penilaian. Selain dengan tes tertulis, penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan selama proses pembelajaran, dengan wawancara, atau dengan meminta melakukan tugas.
c.       Prinsip CBSA dilihat dari Dimensi Program Pembelajaran
1)      Tujuan dan bahan kajian  harus disesuaikan dengan lingkungan alam, sosial, dan budaya di mana murid merada. Dengan kata lain tujuan-tujuan dan bahan kajian yang telah ditetapkan di dalam kurikulum harus dimodifikasi untuk disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan anak tanpa mengubah makna esensi dari tujuan dan bahan kajian dimaksud. Untuk ini diperlukan guru yang menguasai makna esensi dari tujuan-tujuan dan bahan kajian pembelajaran serta memiliki wawasan kependidikan yang memadai.
2)      Program pembelajaran yang tidak kaku. Apabila diperlukan, program pembelajaran yang telah disusun sebelumnya dapat disesuaikan unuk kepentingan menyelamatkan siswa dari kemungkinan untuk tidak mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Jika tampak program pembelajaran yang telah direncanakan sulit mencapai tujuan yang telah ditetapkan, maka program pembelajaran itu harus memungkinkan untuk disesuaikan dengan situasi kelas riil, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai.
d.      Prinsip-prinsip Belajar dilihat dari Dimensi Situasi Pembelajaran 
1)      Interaksi yang hangat antara guru dan murid dalam proses pembelajaran. Interaksi semacam ini akan memiliki nilai motivasi yang cukup tinggi bagi upaya murid untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Di samping itu, interaksi yang hangat antara guru dan murid akan mendorong terciptanya situasi pembelajaran yang kondusif. Hal ini dapat terjadi, kalau guru memiliki wawasan kemanusiaan yang positif tentang murid-muridnya. Guru harus memiliki pandangan bahwa murid-murid merupakan sesama manusia yang sederajat dengan guru, dan mereka memiliki kemampuan, pengetahuan, dan harga diri sebagaimana manusia lainnya. Sikap guru yang memperlakukan murid secara manusiawi akan memberikan peluang bagi terciptanya proses pembelajaran banyak arah dan hangat. 
2)      Adanya kegembiraan dan kegairahan belajar. Dengan kegembiraan  dan kegairahan belajar yang baik, maka hasil belajar siswa akan meningkat. Untuk maksud tersebut maka guru harus memiliki kemampuan untuk mencipakan situasi belajar yang gembira dan bergairah. 
3)      Etos kerja merupakan suatu sikap atau kebiasaan yang diciptakan untuk mendapatkan hasil kerja yang baik dengan suasana kerja yang medukungnya. Etos kerja merupakan modal dasar bagi setiap manusia untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi dalam kerja. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa etos kerja adalah sikap terhadap kerja, kebiasaan dalam bekerja, termasuk di dalamnya cara pandang terhadap berbagai persoalan dalam kerja.  Etos kerja seseorang terbentuk dalam proses waktu yang panjang, dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Etos kerja dibedakan menjadi etos kerja tradisional dan etos kerja modern.
                      Etos kerja tradisional memiliki ciri-ciri :
1.      Tidak bisa berspekulasi tentang hakekat hidup, karya, dan hasil karya manusia, sehingga menganggap bekerja hanya untuk mencari makan.
2.      Mempunyai persepsi waktu yang terbatas.
3.      Memandang tinggi konsep sama rata dan sama rasa (Koentjaraningrat, 1981).
Sementara menurut Rizal Mustrasyir (dalam Rukiyati dan Dwikurniarini, 1994) ada 13 ciri manusia yang memiliki etos kerja modern, yaitu:


1.      efisien,
2.      tekun dan rajin,
3.      teratur,
4.      tepat waktu,
5.      hemat,
6.      teliti/seksama,
7.      rasional dalam mengambil keputusan,
8.      pandai memanfaatkan  peluang dalam menghadapi perubahan,
9.      melakukan tugas secara energik,
10.  memiliki integritas diri,
11.  percaya kepada diri sendiri,
12.  kooperatif,
13.  berwawasan jauh ke depan.



D.    Rambu-Rambu Penyelenggaraan CBSA
Hakikat CBSA adalah keterlibatan intelektual-emosional siswa secara optimal dalam proses pembelajaran; dan setiap proses pembelajaran memiliki kadar CBSA yang berbeda-beda. Rambu-rambu CBSA adalah gejala-gelaja yang tampak pada perilaku siswa dan guru baik dalam program maupun dalam proses pembelajaran. Rambu-rambu yang dimaksud adalah:
1.       Kuantitas dan kualitas pengalaman yang membelajarkan.
2.       Prakarsa dan keberanian siswa dalam mewujudkan minat, keinginan, dan dorongan-dorongan yang ada pada dirinya.
3.       Keberanian dan keinginan siswa untuk ikut serta dalam proses pembelajaran.
4.       Usaha dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran.
5.       Keingintahuan yang ada pada diri siswa.
6.       Rasa lapang dan bebas yang ada pada diri siswa.
7.       Kuantitas dan mualitas usaha yang dilakukan guru dalam membina dan mendorong keaktifan siswa.
8.       Kualitas guru sebagai inovator dan fasilitator.
9.       Tingkat sikap guru yang tidak mendominasi dalam proses pembelajaran.
10.   Kuantitas dan kualitas metode dan media yang dimanfaatkan guru dalam proses pembelajaran.
11.   Keterikatan guru terhadap program pembelajaran.
12.   Variasi interaksi guru-siswa dalam proses pembelajaran.
13.   Kegiatan dan kegembiraan siswa dalam belajar.
Rambu-rambu CBSA tersebut, akan dapat digunakan untuk mengetahui kadar ke-CBSA-an suatu proses pembelajaran apabila dirumuskan kembali ke dalam bentuk panduan observasi atau instrumen lain.



E.     Manfaat CBSA
1.   Untuk mengantarkan siswa ke kedewasaan dalam arti perkembangan yang optimal. Perkembangan yang optimal mempunyaiarti yang luas, yaitu pertama-tama peserta didik mengembangkan segalapotensi yang ada padanya sehingga dapat mencapai kepuasan diri yangsepenuhnya
2.   Peran serta siswa dalam berbagai kegiatan belajar secara aktif akanmeningkat keterlibatan mental siswa yang bersangkutan dalam prosesbelajar-mengajar
3.   Kegiatan belajar mengajar dengan memberikan keleluasaan kepada siswauntuk berkomunikasi dua arah itu memberikan peluang bagi guru untuk memperoleh bahkan dalam rangka menilai keberhasilan pembelajaranyang dilaksanakan
4.   Untuk meningkatkan kemampuan siswa dan guru itu sendiri.

F.     Penerapan CBSA
Konsekuensi yang harus diterima dari adanya pembelajaran berdasarkan siswa ialah:
1.   Guru merupakan seorang pengelola (manager) dan perancang (designer) dari pengalaman belajar.
2.   Guru dan siswa menerima peran kerja sama (partnership)
3.   Bahan-bahan pembelajaran dipilih berdasarkan kelayakannya.
4.   Penting untuk melakukan identifikasi dan penuntasan syarat-syarat belajar (learning requirements).
5.   Siswa dilibatkan dalam pembelajaran.
6.   Tujuan ditulis secara jelas
7.   Semua tujuan diukur/dites.
Konsekuensi tersebut menuntut guru agar guru memiliki khasanah pengetahuan yang luas tentang teknik/cara penyampaian atau sistem penyampaian, dan guru juga harus memiliki kriteria tertentu untuk memilih sistem penyampaian yang tepat untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran.
Menurut Ausubel (1978), untuk dapat melihat lebih jelas kadar ke-CBSA-an dan kebermaknaan suatu proses pembelajaran, ada dua dimensi yang dapat dipertentangkan, yaitu:
1.       Kebermaknaan bahan dan/atau proses pembelajaran, terentang dari belajar hapalan tanpa pemahaman (rote learning) sampai belajar penuh kebermaknaan (meaningfull learning).
2.       Modus-modus pembelajaran, diklasifikasikan menjadi belajar reseptif, belajar dengan penemuan terbimbing, dan belajar dengan penemuan mandiri.
Ada prasyarat tertentu yang harus dimiliki oleh guru untuk meningkatkan kadar CBSA suatu proses pembelajaran. Peningkatan kadar CBSA dari suatu proses pembelajaran berarti pula mengarahkan proses pembelajaran yang berorientasi pada siswa atau dengan kata lain menciptakan pembelajaran berdasarkan siswa.
Untuk dapat mengelola dan merancang program pembelajaran dan proses pembelajaran, seorang guru hendaknya mengenal faktor-faktor penentu kegiatan pembelajaran. Faktor-faktor penentu tersebut adalah:
1.       Karakteristik tujuan, yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang ingin dicapai atau ditinggalkan sebagai hasil kegiatan.
2.       Karakteristik mata pelajaran/bidang studi, yang meliputi tujuan, isi pelajaran, urutan, dan cara mempelajarinya.
3.       Karakteristik siswa, mencakup karakteristik perilaku masukan kognitif dan afektif, usia, jenis kelamin, dan yang lain.
4.       Karakteristik lingkungan/setting pembelajaran, mencakup kuantitas dan kualitas prasarana, alokasi jam pertemuan, dan yang lainnya.
5.       Karakteristik guru, meliputi filosofinya tentang pendidikan dan pembelajaran, kompetensinya dalam teknik pembelajaran, kebiasaannya, pengalaman kependidikannya, dan yang lain.
Agar seorang guru mampu menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang memiliki kadar CBSA tinggi, maka dalam memilih dan menentukan teknik pembelajaran atau sistem penyampaian hendaknya benar-benar mempertimbangkan kemanfaatan dari teknik pembelajaran yang dipilihnya. Kadar CBSA dalam suatu proses pembelajaran terllihat sejak guru membuat persiapan pembelajaran, yakni pada jabaran kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru maupun siswa. . Teknik pembelajaran yang dapat diartikan sebagai prosedur  rutin atau suatu cara yang telah ditentukan sebelumnya untuk menyampaikan pesan dengan bahan, alat, latar, dan orang , pada akhirnya akan membentuk sistem instruksional. Oleh karena pentingnya teknik pembelajaran ini, maka pemanfaatan teknik pembelajaran itu hendaknya bersesuaian dengan karakteristik, karakteristik guru, karakteristik tujuan, karakteristik mata pelajaran  / bidang studi, dan karakteristik bahan alat pembelajaran.














BAB III
PENUTUP
Kesimpulan



















DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar