MAKALAH
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
PENDEKATAN CARA BELAJAR SISWA AKTIF
( CBSA )

DISUSUN
OLEH :
DINI PERMATA SARI ( 1204660 )
EMHA MARTITAH HAQ ( 1204698 )
ERIC DORISKHA ( 1100592 )
FATMAWATI ( 1204656 )
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI PADANG
2014
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah BELAJAR DAN PEMBELAJARAN yang berjudul “ Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)” sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan.
Makalah ini disusun untuk melengkapi salah satu tugas
Belajar dan Pembelajaran, sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh Ibu Elise
Muryanti sebagai dosen pengajar.
Ucapan Terimakasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang
telah membantu dalam terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam
penulisan dan penyampaian materi dalam makalah ini. Selanjutnya penulis
mengharap saran dan kritik untuk kesempurnaan makalah selanjutnya.
Padang, Maret 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A. Latar
Belakang............................................................................................. 1
B. Rumusan
Masalah........................................................................................ 1
C. Tujuan ......................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................... 2
A. Pengertian Pendekatan CBSA..................................................................... 2
B. Rasionalisasi CBSA dalam Pembelajaran.................................................... 3
C. Prinsip – prinsip CBSA................................................................................ 5
D. Rambu – rambu Penyelenggaraan CBSA.................................................. 12
E.
Manfaat CBSA.......................................................................................... 13
F.
Penerapan CBSA....................................................................................... 13
BAB III PENUTUP............................................................................................. 16
Kesimpulan........................................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 17
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Penyelenggaraan pembelajaran merupakan salah satu
tugas utama guru, dimana pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang
ditujukan untuk membelajarkan siswa. Untuk dapat membelajarkan siswa, salah
satu cara yang dapat ditempuh oleh guru ialah dengan menerapkan
pendekatan CBSA. Pendekatan ini merupakan merupakan pendekatan pembelajaran
yang tersurat dan tersirat dalam kurikulum yang berlaku.
CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menuntut
keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari. CBSA menuntut
keterlibatan mental yang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang
berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses
kognitif pembelajaran akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Akan tetapi
dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang
diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan
dikelas secara bersama-sama.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah pendekatan CBSA?
2.
Apa rasionalisasi
pendekatan CBSA dalam prmbelajaran?
3.
Apa prinsip CBSA?
C.
Tujuan
Untuk menyelesaikan tugas mata
kuliah “Belajar dan Pembelajaran”
dan menjelaskan apa itu pengertian,
rasional, dan prinsip – prinsip Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), serta menjelaskan
tentang manfaat dan rambu- rambu dalam penyelenggaraan CBSA. Makalah
ini juga bertujuan untuk menambah
wawasan bagi pembaca dan penulis.
BAB II
PEMBAHASAN
PENDEKATAN CARA
BELAJAR SISWA AKTIF ( CBSA )
A.
Pengertian Pendekatan CBSA
Pendekatan pembelajaran dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang
sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan,
dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan tertentu.
Menurut Nana Sujana (1988),
dikatakan bahwa CBSA adalah suatu proses belajar-mengajar yang menggunakan
berbagai metode yang subjek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional,
sehingga subjek didik betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam
kegiatan belajar.
Menurut Misbah Partika (1987),
dikatakan CBSA adalah proses belajar mengajar yang menggunakan berbagai metode
yang menitik beratkan kepada keaktifan yang bersifat fisik, mental, emosional
maupun intelektual untuk mencapai tujuan pendidikan yang berhubungan dengan
wawasan kognitif, afektif dan psikomotor secara optimal.
Bertitik tolak dari beberapa
definisi tersebut di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Cara Belajar
Siswa Aktif (CBSA) merupakan suatu pendekatan yang diterapkan dalam proses
belajar-mengajar dengan menekankan pada keterlibatan kemampuan peserta didik,
baik secara fisik, mental, intelektual maupun emosionalnya sehingga diperoleh
hasil belajar yang berupa keterpaduan antar aspek kognitif, afektif dan
psikomotor dalam kesatuan pribadi peserta didik yang utuh seperti yang
diinginkan dalam tujuan pendidikan nasional.
Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
merupakan suatu pendekatan sebagai urutan pembelajaran yang mengarah kepada
pengoptimalisasian pelibatam intelektual-emosional siswa dalam proses
pembelajaran, dengan pelibatan fisik siswa apabila diperlukan. Peningkatan CBSA
dari suatu proses pembelajaran berarti pula mengarahkan proses pembelajaran
yang berorientasi pada siswa atau dengan kata lain menciptakan pembelajaran
berdasarkan siswa (Student Based Instruction). Konsep CBSA yang
dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat membantu
pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar
aktivitas pembelajar masih rendah dan belum terpogram. Akan tetapi dengan CBSA
para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan
kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara
bersama-sama.
B.
Rasionalisasi CBSA dalam Pembelajaran
Rasional atau dasar pemikiran dan alasan usaha peningkatan CBSA dapat
ditinjau kembali pada hakikat CBSA dan tujuan pendekatan itu sendiri. Dengan
cara demikian pembelajar dapat diketahui potensi, tendensi dan terbentuknya
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimilikinya. Pada dasarnya dapat
diketahui bahwa baik pembelajar. materi pelajaran, cara penyajian atau disebut
juga pendekatan-pendekatan berkembang.
Gage dan Berliner secara sederhana mengungkapkan bahwa belajar dapat
didefinisikan sebagai suatu proses yang mebuat seseorang mengalami perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang diperolehnya. Dengan demikian,
dalam belajar orang tidak mungkin melimpahkan tugas-tugas belajarnya kepada
orang lain. Orang belajar adalah orang yang mengalami sendiri proses belajar.
Bertolak dari pemikiran-pemikiran yang terkandung
dalam konsep belajar seumur hidup dan konsep belajar serta kenyataan proses
pembelajaran, maka peningkatan penerapan CBSA merupakan kebutuhan yang harus
segera terpenuhi. Dengan penerapan CBSA, siswa diharapkan akan lebih mampu
mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya
secara penuh. Di sisi lain, guru diharapkan bekerja secara profesional, guru
dapat merekayasa sistem pembelajaran yang mereka laksanakan secara sistematis,
dengan pemikiran mengapa dan bagaimana menyelenggarakan kegiatan pembelajaran
aktif (Raka Joni, 1992:11). Sehingga di kemudian hari penerapan CBSA pada
gilirannya akan mencetak guru-guru yang potensial dalam menyesuaikan diri
terhadap perubahan lingkungan alam dan sosial budaya.
Pelaksanaan
proses pembelajaran dititik beratkan pada keaktifan siswa belajar dan keaktifan
guru menciptakan lingkungan belajar yang serasi dan menantang. Penerapan CBSA
dilakukan dengan cara mengfungsionalisasikan seluruh potensi manusiawi siswa
melalui penyediaan lingkungan belajar yang meliputi aspek-aspek bahan
pelajaran, guru, media pembelajaran, suasana kelas dan sebagainya. Cara belajar
di sesuaikan dengan minat dan
pemberian kemudahan kepada
siswa untuk memperoleh pemahaman, pendalaman, dan pengendapan sehingga hasil
belajar berintemalisasi dengan pribadi siswa. Dalam kondisi ini semua unsur
pribadi siswa aktif seperti emosi, perasaan, intelektual, pengindran, fisik dan
sebagainya.
CBSA dapat
berlangsung dengan efektif, bila guru melaksanakan peran dan fungsinya secara
aktif dan kreatif, mendorong dan membantu serta berupaya mempenguruhi siswa
untuk mencapai tujuan pembelajaran dan belajar yang telah ditentukan. Keaktifan
guru dilakukan pada tahap-tahap kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pellilaian
dan tindak lanjut pembelajaran.Peranan guru bukan sebagai orang yang menuangkan
materi pelajaran kepada siswa, melainkan bertindak sebagai pembantu dan
pelayanan bagi siswanya. Siswa aktif belajar, sedangkan guru memberikan
fasilitas belajar, bantuan dan pelayanan. Beherapa kegiatan yang dapat
dilakukan oleh guru, ialah:
1)
Menyiapkan lembaran kerja
2)
Menyusun tugas bersama siswa;
3)
Memberikan informasi tentang kegiatan yang akan
dilakukan;
4)
Memberikan bantuan dan pelayanan kepada siswa apabila
siswa mendapat kesulitan;
5)
Menyampaikan pertanyaan yang bersifat asuhan;
6)
Membantu mengarahkan rumusan kesimpulan umum;
7)
Memberikan bantuan dan pelayanan khusus kepada siswa
yang lambat;
8)
Menyalurkan bakat dan minat siswa;
9)
Mengamati setiap aktivitas siswa.
Kegiatan-kegiatan tersebut
menunjukkan, bahwa pembelajaran berdasarkan pendekatan CBSA tidak diartikan
guru menjadi fasif, melainkan tetap harus aktif namun tidak bersikap
mendominasi siswa dan menghambat perkembangan potensinya Guru bertindak sebagai
guru inquiry, dan fasilitator.
C.
Prinsip – prinsip CBSA
Menurut Davies (dalam Sumantri dan Permana,
1998/1999) prinsip-prinsip CBSA dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama,
prinsip-prinsip umum yang diturunkan dari prinsip-prinsip belajar. Kedua,
prinsip-prinsip khusus yang dilihat dari beberapa dimensi, yaitu : dimensi
peserta didik, dimensi guru, dimensi program pembelajaran, dan dimensi situasi
belajar mengajar.
1.
Prinsip-prinsip Umum
a. Hal
apa pun yang dipelajari oleh murid, maka murid harus mempelajarinya sendiri.
Tidak ada orang lain yang dapat menggantikan kegiatan belajar itu unuk murid
bersangkutan.
b. Setiap
murid belajar menurut tempo belajarnya sendiri. Setiap kelompok umur memiliki
variasi dalam kecepatan belajar.
c. Setiap
murid akan belajar lebih banyak, bilamana dalam setiap langkah segera diberikan
penguatan (reinforcement).
d. Penguasaan
secara penuh dari setiap langkah akan memungkinkan belajar secara keseluruhan
lebih berarti.
e. Apabila
murid diberi tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia akan lebih
termotivasi untuk belajar, dan ia akan belajar dan mengingat dengan lebih baik.
2.
Prinsip - prinsip Khusus
a.
Prinsip CBSA Dilihat dari Dimensi Peserta Didik
1)
Peserta didik harus berani mewujudkan minat, keinginan, dan dorongan
yang ada pada dirinya. Hal penting yang harus
mendapatkan perhatian, dalam hal ini adalah bahwa peserta didik harus
betul-betul menyadari, belajar adalah tugasnya. Ia harus terlibat secara aktif,
berusaha meraih keinginannya, dan melakukan kegiatan belajar untuk mewujudkan
dorongan atau motifnya.
2) Peserta didik harus
memiliki keinginan dan keberanian untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan
belajar. Dengan kata lain, keinginan dan keberanian
untuk terlibat aktif harus dibangkitkan. Kehendak mereka tidak boleh terpendam,
keinginannya tidak perlu tertunda, dan keinginan mereka tidak boleh menjadi
kendor sebelum teraktualisasikan dalam pengalaman belajar mereka sendiri.
3) Peserta didik harus
didorong untuk berusaha keras dan kreatif dalam mencari pemecahan masalah yang
dihadapi dalam belajar. Mereka diharapkan
tidak menghindari tantangan dan masalah-masalah yang dihadapi. Dengan tantangan
dan masalah-masalah itu, kreativitas mereka justru harus muncul dan berkembang
secara optimal.
4) Sifat keingintahuan
yang kuat, yang secara alamiah telah ada dalam diri anak sejak kecil, tidak
boleh terhambat. Peristiwa pembelajaran hendaknya
memelihara kondisi belajar peserta didik untuk selalu bertanya dan berusaha
mencari jawabannya secara memuaskan. Mereka menjadi aktif dalam belajar karena
berbagai hal yang merangsang untuk ditanyakannya dan diberi jawababnya secara
tepat.
5) Kegiatan belajar
sepatutnya menyenangkan. Siswa harus merasa
lapang dan bebas dari perasaan terancam oleh perasaan stres, situasi yang
mencekam dan menakutkan. Karena hanya dengan begitu mereka tidak terbelenggu
untuk mengemukakan gagasan-gagasannya dalam belajar. Mereka harus terbiasa
dalam keadaan merdeka, serta memiliki kebebasan yang bertanggung jawab
b.
Prinsip-prinsip CBSA dilihat dari Dimensi Guru
Menurut Ibrahim dan Karyadi (1993) prinsip-prinsip
CBSA dilihat dari tingkah laku guru meliputi :
1)
Memberikan
kesempatan kepada murid untuk melakukan berbagai macam kegiatan.
Hal ini dapat terjadi bila titik pusat pembelajaran diletakkan pada kegiatan
murid dan bukan pada kegiatan guru. Guru diharapkan bertindak sebagai motivator
dan fasilitator. Pada umumnya, setiap murid lebih senang dan bergairah bila ia
diminta untuk melakukan percobaan atau upaya menemukan cara memecahkan suatu
masalah daripada mendengarkan dan
mencatat apa yang disampaikan oleh guru.
2)
Menciptakan
berbagai situasi belajar. Banyak cara yang dapat
dilakukan guru untuk meniptakan situasi belajar mengajar yang kondusif.
Misalnya, mengatur ruangan sedemikian rupa sehinggga memberi kemungkinan kepada
murid untuk melakukan diskusi kelompok, memasang hasil karya murid dan guru
yang dapat digunakan sebagai sumber belajar pada dinding kelas, dan lain-lain. Menggunakan berbagai macam metode mengajar
juga akan membuat situasi pembelajaran beragam. Keragaman situasi belajar
sangat diperlukan agar suasana kelas tidak membosankan.
3)
Mendorong
murid menjadi peserta aktif dalam proses belajar.
Guru harus berusaha meningkatkan gairah belajar murid sehingga mereka ikut
serta secara aktif dalam proses belajar – mengajar. Untuk itu perlu
dikembangkan bahan kajian dan ppembelajaran yang selalu dapat menantang murid
untuk menyelesaikan pekerjaannya. Hal ini mungkin terlaksana bila guru memiliki
kemampuan untuk berinteraksi dengan murid secara edukatif dan kemampuan untuk
memotivasi serta menciptakan kondisi kelas untuk itu.
4)
Mendorong
murid untuk menjadi kreatif. Misalnya, guru
memberikan kesempatan kepada murid untuk menyampaikan berbagai macam
kemungkinan jawaban atau suatu persoalan, atau menciptakan sesuatu sesuai
dengan kemampuan murid. Hal ini dapat terjadi bila guru tidak selalu terikat
pada bahan kajian secara ketat.Usaha semacam ini memerlukan kemampuan guru
untuk berkreasi atau untuk menciptakan sesuatu yang baru.
5)
Memberikan
pelayanan terhadap perbedaan individual. Perbedaan
individu dapat terlayani apabila guru memberikan kesempatan kepada murid untuk
belajar menurut cara dan waku yang sesuai dengan kemampuan murid. Memberikan
tugas atau pertanyaan sesuai dengan kemampuan masing-masing murid merupakan
salah satu contoh pelayanan terhadap perbedaan individual. Hal ini dapat
terjadi apabila guru mengenal dan memahami murid-muridnya dengan segala
karakteristiknya.
6)
Menggunakan
berbagai sumber belajar. Selain buku pelajaran,
banyak macam bahan yang dapat digunakan sebagai sumber belajar. Misalnya koran,
majalah, dan lingkungan. Pemanfaatan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan
lingkungan budaya sebagai sumber belajar sangat membantu murid untuk lebih
cepat memahami apa yang dipelajarinya, karena semua itu dekat dengan murid.
7)
Memberi
umpan balik. Guru harus selalu memberikan
tanggapan terhadap setiap hasil belajar peserta didik. Umpan balik akan
memiliki nilai motivasi yang baik, kalau diberikan dengan tidak menyinggung
perasaan murid atau menyebabkan mereka menjadi malu. Umpan balik perlu
diberikan dengan bahasa yang tepat sehingga murid dengan senang hati
memperbaiki kekurangannya atau mempertahankan keunggulannya.
8)
Menilai
hasil belajar murid dengan berbagai cara.
Menilai hasil belajar murid dengan menggunakan tes tertulis merupakan hal yang
lazim dilakukan oleh guru. Tetapi tes tertulis tidak selalu sesuai untuk
menilai semua perubahan tingkah laku murid. Karena itu, dalam proses
pembelajaran perlu digunakan berbagai cara penilaian. Selain dengan tes
tertulis, penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan selama proses
pembelajaran, dengan wawancara, atau dengan meminta melakukan tugas.
c.
Prinsip CBSA dilihat dari Dimensi Program Pembelajaran
1) Tujuan dan bahan
kajian harus disesuaikan dengan
lingkungan alam, sosial, dan budaya di mana murid merada.
Dengan kata lain tujuan-tujuan dan bahan kajian yang telah ditetapkan di dalam
kurikulum harus dimodifikasi untuk disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan
anak tanpa mengubah makna esensi dari tujuan dan bahan kajian dimaksud. Untuk
ini diperlukan guru yang menguasai makna esensi dari tujuan-tujuan dan bahan
kajian pembelajaran serta memiliki wawasan kependidikan yang memadai.
2) Program pembelajaran
yang tidak kaku. Apabila diperlukan,
program pembelajaran yang telah disusun sebelumnya dapat disesuaikan unuk
kepentingan menyelamatkan siswa dari kemungkinan untuk tidak mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan. Jika tampak program pembelajaran yang telah
direncanakan sulit mencapai tujuan yang telah ditetapkan, maka program
pembelajaran itu harus memungkinkan untuk disesuaikan dengan situasi kelas
riil, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai.
d.
Prinsip-prinsip Belajar dilihat dari Dimensi Situasi Pembelajaran
1)
Interaksi yang hangat antara guru dan murid dalam proses
pembelajaran. Interaksi semacam ini akan memiliki
nilai motivasi yang cukup tinggi bagi upaya murid untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang ditetapkan. Di samping itu, interaksi yang hangat antara guru
dan murid akan mendorong terciptanya situasi pembelajaran yang kondusif. Hal
ini dapat terjadi, kalau guru memiliki wawasan kemanusiaan yang positif tentang
murid-muridnya. Guru harus memiliki pandangan bahwa murid-murid merupakan
sesama manusia yang sederajat dengan guru, dan mereka memiliki kemampuan,
pengetahuan, dan harga diri sebagaimana manusia lainnya. Sikap guru yang
memperlakukan murid secara manusiawi akan memberikan peluang bagi terciptanya
proses pembelajaran banyak arah dan hangat.
2) Adanya kegembiraan dan
kegairahan belajar. Dengan kegembiraan dan kegairahan belajar yang baik, maka hasil
belajar siswa akan meningkat. Untuk maksud tersebut maka guru harus memiliki
kemampuan untuk mencipakan situasi belajar yang gembira dan bergairah.
3)
Etos kerja merupakan suatu sikap atau kebiasaan
yang diciptakan untuk mendapatkan hasil kerja yang baik dengan suasana kerja
yang medukungnya. Etos kerja merupakan modal dasar bagi setiap manusia untuk
mengatasi berbagai masalah yang dihadapi dalam kerja. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa etos kerja adalah sikap terhadap kerja, kebiasaan dalam
bekerja, termasuk di dalamnya cara pandang terhadap berbagai persoalan dalam
kerja. Etos kerja seseorang
terbentuk dalam proses waktu yang panjang, dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Etos kerja
dibedakan menjadi etos kerja tradisional dan etos kerja modern.
Etos kerja tradisional memiliki ciri-ciri :
1.
Tidak bisa berspekulasi tentang hakekat hidup, karya, dan hasil karya
manusia, sehingga menganggap bekerja hanya untuk mencari makan.
2.
Mempunyai persepsi waktu yang terbatas.
3.
Memandang tinggi konsep
sama rata dan sama rasa (Koentjaraningrat, 1981).
Sementara menurut Rizal Mustrasyir (dalam Rukiyati
dan Dwikurniarini, 1994) ada 13 ciri manusia yang memiliki etos kerja modern,
yaitu:
1. efisien,
2. tekun
dan rajin,
3. teratur,
4. tepat
waktu,
5. hemat,
6. teliti/seksama,
7. rasional
dalam mengambil keputusan,
8. pandai
memanfaatkan peluang dalam menghadapi
perubahan,
9. melakukan
tugas secara energik,
10. memiliki
integritas diri,
11. percaya
kepada diri sendiri,
12. kooperatif,
13. berwawasan
jauh ke depan.
D. Rambu-Rambu Penyelenggaraan CBSA
Hakikat CBSA adalah keterlibatan
intelektual-emosional siswa secara optimal dalam proses pembelajaran; dan
setiap proses pembelajaran memiliki kadar CBSA yang berbeda-beda. Rambu-rambu
CBSA adalah gejala-gelaja yang tampak pada perilaku siswa dan guru baik dalam
program maupun dalam proses pembelajaran. Rambu-rambu yang dimaksud adalah:
1.
Kuantitas dan kualitas pengalaman yang membelajarkan.
2.
Prakarsa dan keberanian siswa dalam mewujudkan minat,
keinginan, dan dorongan-dorongan yang ada pada dirinya.
3.
Keberanian dan keinginan siswa untuk ikut serta dalam
proses pembelajaran.
4.
Usaha dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran.
5.
Keingintahuan yang ada pada diri siswa.
6.
Rasa lapang dan bebas yang ada pada diri siswa.
7.
Kuantitas dan mualitas usaha yang dilakukan guru dalam
membina dan mendorong keaktifan siswa.
8.
Kualitas guru sebagai inovator dan fasilitator.
9.
Tingkat sikap guru yang tidak mendominasi dalam proses pembelajaran.
10.
Kuantitas dan kualitas metode dan media yang dimanfaatkan guru dalam proses
pembelajaran.
11.
Keterikatan guru terhadap program pembelajaran.
12.
Variasi interaksi guru-siswa dalam proses
pembelajaran.
13.
Kegiatan dan kegembiraan siswa dalam belajar.
Rambu-rambu CBSA tersebut, akan dapat digunakan untuk mengetahui kadar
ke-CBSA-an suatu proses pembelajaran apabila dirumuskan kembali ke dalam bentuk
panduan observasi atau instrumen lain.
E.
Manfaat CBSA
1. Untuk mengantarkan siswa ke
kedewasaan dalam arti perkembangan yang optimal. Perkembangan yang optimal
mempunyaiarti yang luas, yaitu pertama-tama peserta didik mengembangkan
segalapotensi yang ada padanya sehingga dapat mencapai kepuasan diri
yangsepenuhnya
2. Peran serta siswa dalam berbagai
kegiatan belajar secara aktif akanmeningkat keterlibatan mental siswa yang
bersangkutan dalam prosesbelajar-mengajar
3. Kegiatan belajar mengajar dengan
memberikan keleluasaan kepada siswauntuk berkomunikasi dua arah itu memberikan
peluang bagi guru untuk memperoleh bahkan dalam rangka menilai
keberhasilan pembelajaranyang dilaksanakan
4. Untuk meningkatkan kemampuan siswa
dan guru itu sendiri.
F.
Penerapan
CBSA
Konsekuensi yang harus diterima dari adanya pembelajaran berdasarkan siswa
ialah:
1.
Guru merupakan seorang pengelola (manager) dan perancang (designer)
dari pengalaman belajar.
2.
Guru dan siswa menerima peran kerja sama (partnership)
3.
Bahan-bahan pembelajaran dipilih berdasarkan kelayakannya.
4.
Penting untuk melakukan identifikasi dan penuntasan syarat-syarat belajar (learning
requirements).
5.
Siswa dilibatkan dalam pembelajaran.
6.
Tujuan ditulis secara jelas
7.
Semua tujuan diukur/dites.
Konsekuensi tersebut menuntut guru agar guru memiliki khasanah pengetahuan
yang luas tentang teknik/cara penyampaian atau sistem penyampaian, dan guru
juga harus memiliki kriteria tertentu untuk memilih sistem penyampaian yang
tepat untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa yang terlibat dalam proses
pembelajaran.
Menurut Ausubel (1978), untuk dapat melihat lebih jelas kadar ke-CBSA-an
dan kebermaknaan suatu proses pembelajaran, ada dua dimensi yang dapat
dipertentangkan, yaitu:
1.
Kebermaknaan bahan dan/atau proses pembelajaran, terentang dari belajar hapalan
tanpa pemahaman (rote learning) sampai belajar penuh kebermaknaan (meaningfull
learning).
2.
Modus-modus pembelajaran, diklasifikasikan menjadi belajar reseptif,
belajar dengan penemuan terbimbing, dan belajar dengan penemuan mandiri.
Ada prasyarat tertentu yang harus dimiliki oleh guru
untuk meningkatkan kadar CBSA suatu proses pembelajaran. Peningkatan kadar CBSA
dari suatu proses pembelajaran berarti pula mengarahkan proses pembelajaran
yang berorientasi pada siswa atau dengan kata lain menciptakan pembelajaran
berdasarkan siswa.
Untuk dapat mengelola dan
merancang program pembelajaran dan proses pembelajaran, seorang guru hendaknya
mengenal faktor-faktor penentu kegiatan pembelajaran. Faktor-faktor penentu
tersebut adalah:
1.
Karakteristik tujuan, yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan nilai
yang ingin dicapai atau ditinggalkan sebagai hasil kegiatan.
2.
Karakteristik mata pelajaran/bidang studi, yang
meliputi tujuan, isi pelajaran, urutan, dan cara mempelajarinya.
3.
Karakteristik siswa, mencakup karakteristik perilaku
masukan kognitif dan afektif, usia, jenis kelamin, dan yang lain.
4.
Karakteristik lingkungan/setting pembelajaran,
mencakup kuantitas dan kualitas prasarana, alokasi jam pertemuan, dan yang
lainnya.
5.
Karakteristik guru, meliputi filosofinya tentang
pendidikan dan pembelajaran, kompetensinya dalam teknik pembelajaran,
kebiasaannya, pengalaman kependidikannya, dan yang lain.
Agar seorang guru mampu
menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang memiliki kadar CBSA tinggi, maka
dalam memilih dan menentukan teknik pembelajaran atau sistem penyampaian
hendaknya benar-benar mempertimbangkan kemanfaatan dari teknik pembelajaran
yang dipilihnya. Kadar CBSA dalam suatu proses pembelajaran terllihat sejak
guru membuat persiapan pembelajaran, yakni pada jabaran kegiatan pembelajaran
yang dilakukan guru maupun siswa. . Teknik pembelajaran
yang dapat diartikan sebagai prosedur rutin atau suatu cara yang telah
ditentukan sebelumnya untuk menyampaikan pesan dengan bahan, alat, latar, dan
orang , pada akhirnya akan membentuk sistem instruksional. Oleh karena pentingnya teknik
pembelajaran ini, maka pemanfaatan teknik pembelajaran itu hendaknya bersesuaian
dengan karakteristik, karakteristik guru, karakteristik tujuan, karakteristik
mata pelajaran / bidang studi, dan karakteristik bahan alat pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar