BAB III
PERKEMBANGAN TP DAN HUBUNGANNYA
DENGAN ILMU – ILMU LAIN YANG RELEVAN
A. Sejarah
Perkembangan Teknologi Pendidikan di Dunia
Pada
awalnya sebagai suatu disiplin ilmu, teknologi pendidikan berkembang di Amerika
Serikat sebagai bidang kajian. Meskipun demikian beberapa penulis Amerika
Serikat pendahulu atau nenek moyang (forefathers) Teknologi Pendidikan
kebanyakan berasal dari Amerika Serikat.
Jika
kita berpegangan konsep teknologi sebagai cara, maka awal perkembangan
teknologi pendidikan dapat dikatakan telah ada sejak awal peradaban, di mana
orang tua mendidik anaknya dengan memberikan pengalaman langsung serta
memanfaatkan lingkungan.
Saettler berpendapat bahwa sumber tumbuhnya Teknologi Pendidikan dapat
ditelusuri sampai kaum sufi dengan cara menjajakan pengetahuannya. Bahkan menurutnya
cara dialog yang dilakukan oleh Socrates
sampai sekarang masih digunakan sebagai metode pemecahan masalah
(problem-solving method). Secara eksplisit bahwa Komensky merupakan pionir
teknologi pendidikan dengan pendapat perlunya visualisasi dalam pengajaran yang
tertuang dalam bukunya Orbis Sensalium Pictus. Sama halnya dengan Rousseau, Pestalozzi, Froebel yang
menekankan perlunya rangsangan indra untuk meningkatkan efektivitas belajar.
Dan prosedur pengajaran yang dikemukakan oleh Herbart dapat dikatakan sebagai awal yang kita kenal sekarang ini sebagai
desain pembelajaran. Intinya para pemuka pendidikan memberikan kontribusi
lahirnya suatu teknologi pendidikan.
Gerakan
pengkajian dan pengembangan teknologi pendidikan dimotori oleh James D. Finn (1915—1969), seorang guru
besar tetap dalam pendidikan di University of Southern California (USC). Beliau
dianggap sebagai “Bapak” teknologi pendidikan. Karya-karya terpilihnya dihimpun
oleh Ronald J. Mc Beath dalam buku Extending Educational Through Technology
suatu referensi klasik yang diterbitkan oleh AECT pada tahun 1972.
Menurut Finn tahun 1920-an adalah awal
perkembangan teknologi pendidikan. Istilah dan definisi formal pertama yang
berhubungan dengan teknologi pendidikan adalah “pengajaran visual”. Dengan
pengertian kegiatan mengajar dengan menggunakan alat bantu visual yang terdiri
dari gambar, model, objek, atau alat-alat yang dipakai untuk menyajikan
pengalaman konkret.
Tujuannya adalah :
1. memperkenalkan, menyusun, memperkaya atau
memperjelas konsep yang abstrak,
2. mengembangkan sikap yang diinginkan,
3. mendorong timbulnya kegiatan siswa lebih
lanjut.
Kemudian
timbulnya rekaman suara dan film bersuara, aliran visual ini diperluas dengan
menambahkan suara sehingga berkembang menjadi pengajaran audio visual.
Penuangan konsep paling nyata tedapat dalam Cone of Experience (kerucut
pengalaman) oleh Edgar Dale pada
tahun 1954. Aliran ini menekankan bahwa bahan audio visual perlu diintregasikan
ke dalam kurikulum.
Pada
akhir Perang Dunia II mulai timbul suatu kecenderungan baru dalam bidang
audiovisual ke arah dua kerangka konseptual baru dalam bidang audio visual,
yaitu teori komunikasi dan konsep sistem awal. Perhatian tidak lagi dipusatkan
kepada benda-benda tetapi kepada seluruh proses komunikasi informasi mulai dari
sumber (guru atau bahan ajar) sampai ke penerima atau sasaran (pembelajar).
Usaha
untuk merumuskan definisi teknologi pendidikan secara terorganisasikan dimulai
pada tahun 1960-an tepatnya 1963. Sampai pada tahun 2004 definisi teknologi
pendidkan telah berkembang sebanyak enam kali.
Pengembangan
definisi yang pertama dilakukan oleh the Technology Development Project dari
The National Education Association dengan ketua tim Prof. Dr. Donald P. Elly pada tahun 1963 yaitu: Komunikasi audio-visual adalah cabang dari
teori dan praktik pendidikan khususnya yang berkepentingan dengan rancangan dan
pemanfaatan pesan yang mengendalikan proses belajar. Kegiatan ini meliputi
perencanaan, produksi, seleksi, pengelolaan dan pemanfaatan komponen-komponen
sistem dan seluruh sistem pembelajaran. Tujuan praktisnya, yaitu efisiensi
pemanfaatan tiap metode dan media komunikasi untuk membantu pengembangan
potensi pembelajar secara maksimal.
Definisi
kedua oleh CIT (Commision on Instructional Technology) pada tahun 1970 mengacu
kepada Pendekatan Sistem dan Pengembangan Instruksional.
Definisi Teknologi Instuksional yang dirumuskan adalah:
Teknologi
Pembelajaran merupakan usaha sistematik dalam merancang, melaksanakan, dan
mengevaluasi keseluruhan proses belajar dan mengajar dalam rangka mencapai
tujuan khusus komunikasi dan belajar pada manusia, dan menggunakan kombinasi
sumber manusia dan non-manusia agar pembelajaran dapat berlangsung lebih
efektif.
Definisi
ke dua belum dianggap lengkap sehingga pada tahun 1972 AECT mengeluarkan
definisi baru yang ke tiga, yaitu:
Teknologi
Pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan memfasilitasi belajar
pada manusia melalui usaha sistematik dalam identifikasi, pengembangan,
pengorganisasian dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar serta dengan
pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut.
Pada
tahun 1975 AECT membentuk Komisi Definisi dan Terminologi yang dipimpin oleh Dr. Kenneth H. Silber dengan anggota
sebanyak 26 orang. Definisi ke empat ini diterbitkan yaitu:
Teknologi pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi
meliputi orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisa
masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola
pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar pada manusia. Pemecahan
masalah terjelma dalam bentuk sumber belajar yang dirancang, dipilih dan/atau
digunakan untuk keperluan belajar, dan yang terdiri dari pesan, orang, bahan,
peralatan, teknik, dan latar (lingkungan). Proses analisa masalah merupakan
fungsi pengembangan pendidikan dalam bentuk riset/teori, desain, produksi,
evaluasi-seleksi, logistic, pemanfaatan, dan penyebarluasan. Proses pengarahan
dan koordinasi merupakan fungsi pengelolaan pendidikan yang meliputi
pengelolaan organisasi dan personel.
Pada
tahun 1990 AECT kembali membentuk Komisi Definisi dan Terminologi yang dipimpin
oleh Barbara B. Seels. Laporannya
ditulis akhir oleh Barbara Seels dan Rita C. Richey dalam buku Instructional
Technology: The Definition and Domains of the Field tahun 1994. Definisi ke
lima adalah sebagai berikut:
Teknologi
Pembelajaran adalah teori dan praktik dalam desain, pengembangan, pemanfaatan,
pengelolaan, serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar.
Kemudian
definisi ke enam diterbitkan oleh AECT pada tahun 2004 yaitu:
Studi
dan praktik yang berlandaskan etika dalam menfasilitasi belajar dan
meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan berbagai
proses dan sumber teknologi yang tepat.
Komponen dalam definisi adalah:
1. Teori dan praktik
2. Kawasan desain, pengembangan, pemanfaatan,
pengelolaan, dan penilaian
3. Proses dan sumber
4. Untuk keperluan belajar
B. Sejarah
Perkembangan Teknologi Pendidikan di Indonesia
Perkembangan Teknologi Pendidikan di
Indonesia dapat dikatakan mengikuti perkembangan di Amerika Serikat. Perkembangan
dimulai dengan digunakannya media atau alat peraga untuk menunjang kegiatan
pengajaran. Bedanya di Amerika Serikat dengan Demokrasi Liberal memungkinkan
tumbuhnya pemikiran dan tindakan oleh masyarakat, sedangkan di Indonesia
mengharuskan restu dari pemerintah untuk mengembangkan pemikiran dan kegiatan
pada saat Demokrasi Terpimpin.
Pada
tahun 1951 diselenggarakan “School Broadcasting” sebagai suatu usaha rintisan
meliputi Jakarta, Bandung, Bogor, dan Cirebon. Pada waktu itu dibenntuk panitia
penyelenggara school broadcasting yang diketuai oleh Sadarjoen Siswomartojo.
Pada
tahun 1955 didirikan BKTPG (Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru) di Bandung.
Program ini ditujukan kepada guru SD guna menyongsong program perluasan
kesempatan belajar yang lebih berkualitas. Sekarang ini menjadi Pusat
Pendembangan Penataran Guru Tertulis. Pada saat yang hampir bersamaan telah
didirikan TAC (Teaching Aid Center) atau Balai Alat Peraga Pendidikan di
Bandung dengan cabangnya di Malang.
Lembaga ini bertugas mengkoordinasikan
ketersediaan alat peraga pengajaran untuk sekolah-sekolah.
Pada
REPELITA 1 sebenarnya suatu kebijakan berskala nasional sudah ditetapkan
“…digunakan media massa: radio dan televise untuk peningkatan mutu sekolah
dasar…” (RI, 1970:361). Pada tahun 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
menetapkan kebijakan untuk mengembangkan sistem siaran pendidikan secara
bertahap. Dimulai di tiga daerah kemudian dikembangkan ke 11 provinsi setelah
dinilai berhasil.
Tahun
1974 Presiden Suharti sebenarnya telah mencanangkan penggunaan satelit
komunikasi domestik untuk penyebaran pendidikan tetapi tidak mendapat tanggapan
konkret. Pada tahun 1973 dalam rangka kerja sama dengan INNOTECH mulai diuji
coba suatu sistem yang disebut SD PAMONG (pendidikan anak oleh masyarakat orang
tua dan guru). Sistem ini mengembangkan bahan belajar berupa modul cetakan.
Rapat
koordinasi teras Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menggariskan kebijakan
pengembangan teknologi pendidikan dan kebudayaan pada tahun 1975 sebagai
berikut:
1. Kegiatan harus bertolak dari kebijakan
pendidikan yang sudah ada
2. Rencana kegiatan dikembangkan dari hasil
analisa kebutuhan
3. Diprioritaskan program pemerataan mutu
pendidikan
4. Dalam mengadakan pembaruan di sekolah harus
dimulai dari titik pengkal strategis yaitu guru
5. Media yang dikembangkan dan digunakan harus
telah terbukti efektif
6. Dibentuknya unti kerja yang akan menangani dan
memanfaatkan teknologi komunikasi untuk pendidikan dan kebudayaan
7. Pengembangan tenaga melalui latihan dalam
berbagai aspek teknologi pendidikan
8. Pengembangan program teknologi pendidikan pada
perguruan tinggi
Pendidikan keahlian teknologi pendidikan dimulai pada tahun 1976
pada jenjang S1 dan tahun 1978 pada jenjang S2 dan S3. Mayoritas dosen yang
mengajar didatangkan dari AS melalui bantuan teknis dari USAID. Kurikulum dan
tenaga dosennya dikoordinasikan oleh Syracuse University dalam suatu konsorsium
UCIDT (University Consortium of Instructional Developoment and Technology). Di
Indonesia diawali dengan adanya alat peraga yang digunakan oleh guru-guru yang
diharapkan maksimal. Teknologi pendidikan tidak hanya sebatas media tetapi juga
berupa strategi yang diperlukan agar siswa belajar aktif.
Perkembangan terminologi telah menjadi bagian integral dalam sistem
teknologi pendidikan. Istilah “pembelajaran” yang berfokus pada pemelajar
(learner centered)untuk menggantikan istilah “pengajaran” yang teacher centered
mulai diperkenalkan tahun 1973, telah dipakai secara meluas bahakan telah
diakomodasikan dan bahkan dikuatkan dalam perundangan (UU Sisdiknas No. 20
Tahun 2003). Sistem dan strategi pembelajaran yang hakikatnya merupakan
penerapan konsep universal dalam konteks Indonesia juga telah berkembang.
Beberapa bentuk sistem dan strategi pembelajaran di antaranya:
1. Sistem SMP Terbukan dan Universitas Terbuka
yang telah berkembang dan merupakan bagian integral sistem pendidikan nasional.
2. Berkembangnya strategi belajar dan pembelajaran
yang inovativ seperti belajar berbasis masalah, berbasis aneka sumber,
pembelajaran elaboratif, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis
computer, pembelajaran melalui televisi, dll.
Adapun
perkembangan Teknologi Pendidikan muncul sebagai bidang studi dan kategori jabatan baru pada tahun 1960, tetapi sebelum
itu banyak peristiwa sejarah yang menjadi dasar dari sebuah pondasi teknologi
pendidikan secara keseluruhan.
Seperti sejarah perkembangan
Teknologi Pendidikan disini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai sejarah
perkembangan tersebut, menyangkut perkembangan Teknologi Pendidikan, terdapat
beberapa pendapat mengenai hal tersebut, mereka membaginya ke dalama beberapa
priode, di antaranya :
a.
Periode 1932 – 1959
Brown (1984) membahas penjelasan yang dikemukakan Seattler sekitar
perkembangan teknologi instruksional. Seattler mengemukakan bahwa teknologi
instruksional memiliki dua landasan filosofis dan teoritis yang sangat berbeda,
yaitu; physical science dan yang kedua behavior sicence.
Seattler menjelaskan bahwa
konsep ilmu pengetahuan alam tentang teknologi instruksional biasanya berarti
penggunaan ilmu pengetahuan alam dan teknologi rekayasa, seperti projektor,
tape recorder, televisi dan teaching mekanik untuk menyajikan sekolompok materi
instruksional, cirinya adalah bahwa konsep ini memandang berbagai media sebagai
pembantu untuk mengajar dan berkecenderungan untuk lebih memperhatikan alat dan
prosedur dari pada memperhatikan perbedaan individual siswa atau materi
pelajaran.
Gagasan yang paling berpengaruh dan berakar pada konsep imu pengetahuan alam tentang teknologi instruksional ialah memasukkan material (audio visual) dan mesin (proyektor atau gambar hidup).
Gagasan yang paling berpengaruh dan berakar pada konsep imu pengetahuan alam tentang teknologi instruksional ialah memasukkan material (audio visual) dan mesin (proyektor atau gambar hidup).
b.
Periode
1960 – 1969
Beberapa kejadian memberikan masukan terhadap
pergeseran teoritis secara besar besaran berkenaan dengan teknologi
intruksional pada akhir tahun 1950 dan awal 1960an, terutama peritiwa
peluncuran sputnik pada tahun 1957 yang mencengangkan dunia. Akibat dari itu,
terutama di Amerika, sekolah dikritik karena kegagalannya mengajarkan science
dan matematika dalam kapaitas yang cukup. Karena itu tekanan lebih di alamatkan
kepada teknologi instruksional, akibatnya terdapat dua konstruk teoritis muncul
secar bersamaan yang mempengaruhi lapangan teknologi instruksional.
Pertama yaitu pengaruh yang kuat dari aliran behaviorisme
terhadap semua pendekatan belajar dan yang kedua adalah pendekatan sistem
sistem yang datang dari teknik mesin dan teknologi. Gerakan yang berbeda ini
akhirnya melahirkan dan saling melengkapi yang disebut dengan Pengajaran
Terprogram. Gerakan kaum behavioris melahirkan pegembangan tujuan behavioral,
karena diperlukan perumusan tingkah laju lebih lanjut dalam merancang sebuah
proses pembelajaran.
c. Periode 1970 – 1983
Mendekati
akhir tahun 1970, muncul kembali pendekatan kognitif dalam pembelajaran. Banyak
ahli psikologi yang mengsulkan hal tersebut, salah satunya Wittrock. Menurutnya
penekatan kognitif berimplikasi bahwa belajar dan pengajaran secara ilmiah akan
lebih produktif bila dipelajari sebagai sesuatu yang bersifat internal, yakni
suatu proses kognitif berperantara dari pada sebagai produk langsung dari
lingkungan , orang atau faktor eksternal lainnya.
d. Periode 1983 – muthakir
Pada
masa ini berlangsung kekacau balauan akibat pertentangan dari landasan teoritik
teknologi instruksional. Perbedaan pendapat ini terutama dialamatkan kepada
para perintis audio Visual. Seperti Salomon, yang menganggap audio visual itu
sebagai agen informasi dan bukan sebagai stimulus yang langsung untuk respon
tertentu. Lebih lanjut mereka berpendapat bahwa media tidak lebih dari
kendaraan yang mengankut para ahli ke konfrensi pemecahan masalah dan memberi
sumbangan terhadap pemahaman para ahli tentang masalah tersebut.
Lebih lanjut dari itu sejarah perkembangan Teknologi Pendidikan tidak hanya terbatas pada hal tersebut saja, kita tidak bisa begitu saja melepaskan kaitannya dengan sejarah perkembangan Teknologi Pengajaran. Beberapa para ahli menyebutnya demikian dan mereka menjelaskan perkembangan teknologi pembelajaran ke dalam beberapa masa sejarah, diantaranya :
Lebih lanjut dari itu sejarah perkembangan Teknologi Pendidikan tidak hanya terbatas pada hal tersebut saja, kita tidak bisa begitu saja melepaskan kaitannya dengan sejarah perkembangan Teknologi Pengajaran. Beberapa para ahli menyebutnya demikian dan mereka menjelaskan perkembangan teknologi pembelajaran ke dalam beberapa masa sejarah, diantaranya :
A. Metode
Kaum Sofi.
Perkembangan
dari berbagai metoda pengajaran merupakan tanda lahirnya teknologi pengajaran
yang dikenal saat ini. Beberapa pendidik pada masa lampau, yaitu golongan Sofi
di Yunani, para ahli pendidikan memandang menduga kaum Sofi merupakan kaum
teknologi pengajaran yang pertama. Mereka menyampaikan pelajaran dengan
berbagai cara dan teknik . Mula mula mereka menyampaikan bahan pelajaran yang
telah disampaikan secara matang, kemudian mereka melanjutkan dengan perdebatan
yang dilakukan dengan secara bebas, pada saat itulah proses kegiatan belajar
itu berlangsung. Kemudian jika ada minat dari mayarakat untuk belajar, akan
dibuat kontrak dan untuk kemudian menjadi sistem tutor.
Pandangan
ajaran kaum Sofi didasarkan atas;
1.
Bahwa manusia itu berkembang secara evolusi.
Seorang dapat berkembang dengan teratur tahap demi tahap menuju kepada
peradaban yang lebih tinggi. Melalui teknologilah permbelajaran dapat diarahkan
secara efektif.
2.
Bahwa proses evaluasi itu berlagsung terus,
terutama aspek-aspek moral dan hukum.
3.
Sejarah dipandang sebagai gerak perkembangan
yang bersifat evousi berkelanjutan.
4.
Demokrasi dan persamaan sebagai sikap masyarakat
merupakan kaidah umum.
5.
Bahwa asas teori pengetahuan bersifat
progresif, pragmatis, empiris dan behavioristik.
6.
Gagasan kaum Sofi ini cukup banyak mempengaruhi
kurikulum di Eropa, misalnya penggunaan retorika, dialektika, dan gramar
sebagai materi utama dalam quadrivium dan trivium.
B.
Metode Socrates
Bentuk pengajaran lebih ke
dalam bentuk berfilsafat, metode yang dipakai disebut dengan Maieutik atau
menguraikan, yang sekarang dikenal dengan nama metoda inkuiri. Pelaksanaanya
berlangsung dengan cara take and give of conversation. Dengan cara memberikan
pertanyaan yang mengarah kepada suatu masalah tertentu. Pada dasarnya Socrates
mengajarkan tentang mencari pengertian, yaitu suatu bentuk tetap dari sesuatu.
C.
Metode
Abelard.
Metode Abelard ini
berlangsung pada masa pemerintahan Karel Agung di Eropa. Metoda yang di pakai
bertujuan untuk membentuk kelompok pro dan kontra terhadap suatu materi. Guru
tidak memberikan jawaban final tetapi siswalah yang akan menyimpulkan jawaban
itu sendiri. Metoda ini biasa disebut dengan ‘ Sic et Non’ atau setuju atau
tidak.
D.
Metoda Lancaster.
Metoda Lancerter ini dalam bentuk
sistem Monitoring yang merupakan bentuk pengajaran yang unik, meliputi
pengorganisasian kelas, materi pelajaran sesuai dengan rencanannya yang
meningkat dan dikelola secara ekonomis. Lancaster mempelajari konstruksi kelas
khusus yang dapat mendayagunakan secara efektif penggunaan media pengajaran dan
pengelompokan siswa. Dalam sistem pengajaran Lancaster, pemakaian media
pengajaran masih sederhana. Seperti penggunaan pasir dalam melatih siswa
menulis.
E.
Metoda
Pestalozi.
Pengamatan pada alam merupakan
landasan utama dari proses daktiknya. Pengetahuan bermula dari adanya
pengamatan , dan pengamatan menimbulkan pengertian, selanjutnya pengertian yang
baru itu menimbulkan pengertian yang selanjutnya pengertian tersebut bergabung
dengan yang lama untuk menjadi sebuah pengetahuan. Dan dapat dikatakan bahwa
perintisan ke arah pendayagunaan perangkat keras atau hardware sebenarnya telah
dimulai pada masa Pestazoli ini, seperti penciptaan papan aritmatik yang
terbagi dalam kotak-kotak yang di setiap kotaknya diberi garis-garis yang
secara keseluruhan berjumlah 100 kotak kecil. Selain itu Pestalozi juga
menciptakan stylabaries untuk melatih siswanya dalam mempelajri angka, bentuk,
posisi dan warna desain.
F.
Metoda
Froebel.
Metode Froebel didasarkan kepada
metodologi dan pandangan filsafafnya yang intinya mengatakan bahwa pendidkan
masa kanak kanak merupakan hal paling penting untuk keseluruhan kehidupnnya.
Karena itulah Froebel mendirikan Kindergarten atau yang lebih dikenal dengan
Taman Kanak – kanak.
Metoda pengajaran
Kindergasten dari Froebel meliputi kegiatan berikut:
a. Bermain
dan bernyanyi
b. Membentuk
dengan melakukan kegiatan.
c. Grift
dan Occupation.
G.
Metoda
Friedrich Herbart
Praktek pendidikan Herbert terlihat
adanya pengaruh Freobert terutama pada aspek pengembangan moral sebagai tujuan
utama pendidikan. Metoda instruksionalnya didasarkan kepada ilmu jiwa yang
sistematis. Dengan demikian siswa secara pikologis dibentuk oleh gagasan yang
datang dari luar.
Ilmu-Ilmu
Yang Relevan Dengan Teknologi Pendidikan
Menurut Morgan ada tiga disiplin ilmu yang
menunjang TP, yaitu :
1.
Ilmu prilaku (behavioral sciences)
2.
Ilmu komunikasi
3.
Ilmu Manajemen
Lumsdaine
: Landasan pokok TP adalah ilmu prilaku, khususnya teori belajar dan ditunjang
oleh :
1.
Ilmu komunikasi
2.
Cybernetics
3.
Teori persepsi
4.
Teori ekonomi
Teori Belajar Behavioristik
•
Teori Koneksionisme , Throndike
•
Hubungan stimulus – Respon (S_R)
•
Hukum Kesiapan (Readiness)
•
Exercises (Latihan)
•
Effect (Dampak)
Donald
P. Ely membedakan atas 2 kelompok , yaitu :
1.
Basic contributing field, yaitu :
a.
Psikologi
b.
Komunikasi
c.
Evaluasi
d.
Manajemen
2.
Related contributing areas, yaitu :
a.
Psikologi kognitif
b.
Psikologi persepsi
c.
Media
d.
Tujuan
e.
Sistem
f.
Penilaian kebutuhan
g.
Pengembangan instruksional
Trow dan
Haddan mengemukakan bahwa landasan TP adalah dari aliran psikologi, seperti :
1.
Asosiasi
2.
Psikoanalisis
3.
Gestalt
4.
Behavioristik
Jerome
S.Brunner (pemuka psikologi belajar kognitif) mengemukakan bahwa belajar meliputi
tiga proses yang hampir simultan, yaitu :
1.
Diperolehnya informasi baru
2.
Transformasi pengetahuan
3.
Pengkajian atas ketepatan atau kelengkapan
pengetahuan
4.
Menurut M. Gagne (pemuka psikologi
behavioristik) bahwa : Belajar pada hakekatnya adalah perubahan kemampuan dan
disposisi manusia yang dapat dipertahankan, bukan semata-mata proses
pertumbuhan
5.
Disposisi = kecendrungan bertindak menurut
suatu cara tertentu
Hasil belajar menurut Gagne adalah berbentuk :
1.
Informasi verbal
2.
Keterampilan intelektual
3.
Strategi kognitif
4.
Sikap
5.
Keterampilan motorik
Prasyarat agar terjadi
peristiwa belajar adalah :
1.
Perhatian yang terarah
2.
Motivasi
3.
Kematangan (state of developmental readiness)